Info Dan Tips Kesehatan, Pendidikan, Sosial, Alam Dan Ragam Lainnya

Monday, January 19, 2015

Dulu Jenderal Hoegeng tolak dibuang jadi dubes, bagaimana Sutarman?

Indra Lesmana Saputra

Merdeka.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) ternyata sudah menawarkan suatu jabatan ke Jenderal Sutarman usai dicopot menjadi Kapolri. Jabatan tersebut tentunya di luar dari TNI/Polri.

"Presiden sudah tawarkan jabatan bisa duta besar atau BUMN," ujar Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdijatno di Istana, Senin (19/1).
Kebijakan yang menimpa Sutarman ternyata pernah juga dialami Jenderal Hoegeng. Dirinya dicopot sebagai Kapolri oleh Presiden Soeharto dan ditawari menjadi Dubes di Belgia. Saat itu Hoegeng diganti karena disebut-sebut mengusik bisnis Keluarga Cendana.

Seperti ditulis dalam buku Hoegeng, Polisi idaman dan kenyataan oleh Abrar Yusna dan Ramadhan KH, 1993, Hoegeng langsung meminta penjelasan tentang adanya tawaran menjadi dubes kepada atasannya Menteri Pertahanan/Keamanan Jenderal M Penggabean. Apalagi saat itu masa jabatannya belum habis sebagai Kapolri.

"Pada Jenderal Panggabean saya jelaskan, sayangnya saya bukan orang yang tepat untuk menjadi dubes. Karena itu saya meminta pertimbangan bahwa lebih baik saya diberi tugas lain di dalam negeri saja," kata Hoegeng waktu itu.

Apa jawaban Menhankam? "Di Hankam tak ada lagi pos untuk perwira tinggi bintang empat," katanya

Hoegeng tak ingin mempersulit orang lain. Dia sadar ini risiko yang harus dihadapi jika melawan penguasa. Hoegeng berpendirian, jika tak dipercaya lagi buat apa bertahan meskipun masa jabatannya belum habis.

"Kalau begitu, ya sudah, saya keluar saja!"

Pembicaraan itu ternyata didengar oleh Asisten Pribadi Presiden Soeharto, Jenderal Soejono Hoemardani. Soejono menelepon Hoegeng dan menganjurkannya bicara langsung pada presiden.

Tak lama kemudian, Hoegeng dipanggil menghadap oleh Soeharto ke kediamannya Jalan Cendana No 8 Jakarta. Hoegeng datang ke kediaman Soeharto pukul 10.00 Wib. Soeharto menerima kedatangannya tanpa didampingi siapa pun.

Presiden Soeharto langsung bertanya pada Hoegeng: "Lho bagaimana, Mas, mengenai soal Dubes itu?!"

"Saya tak bersedia jadi Dubes Pak!" jawab Hoegeng. "Tapi tugas apa pun di Indonesia akan saya terima."

Pembicaraan pun langsung dialihkan ke soal lain, ke soal situasi lalu kait-kaitannya dengan pos-pos pemerintahan dan hankam. Pada bagian terakhir ini Presiden Soeharto menegaskan "Di Indonesia tak ada lagi lowongan Mas Hoegeng!"

Maka Hoegeng pun langsung nyeletuk. Dia memilih mundur. Sudah sejak awal Hoegeng sadar dirinya dibuang.

"Kalau begitu saya keluar saja!" Mendengar itu Presiden Soeharto terdiam, Hoegeng juga ikut diam.

Karir Jenderal Hoegeng berakhir sebagai Kapolri. Selama Orde Baru berkuasa, sekadar menghadiri HUT Bhayangkara pun Hoegeng tak boleh. Banyak hal tak enak yang harus dialaminya.

Itulah sekelumit cerita tentang polisi jujur dengan harga diri yang tinggi.